Jumat, 05 Juli 2013

SETIAP TAHUN DIPERDEBATKAN...

Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan untuk umat Islam khususnya di Indonesia setiap tahun selalu menjadi sesuatu yang istimewa...

Ada  sesuatu yang menarik untuk di telaah disalah satu rilis uload dari bisnis.com.....simak dan pelajari untuk dianalisa bersama....



BISNIS.COM, JAKARTA-Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1434 Hijriyah/2013 Masehi jatuh pada Selasa Wage, 9 Juli 2013 dan 1 Syawal 1434 H/2013 M jatuh pada Kamis Wage, 8 Agustus 2013.
Penetapan itu ditetapkan oleh PP Muhammadiyah berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, ditandatangani oleh Ketua umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Sekretaris umum PP Mummadiyah Danarto, seperti tertuang dalam Maklumat No.04/MLM/I.0/E/2013 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah 1434 H tertanggal 23 Mei 2013.

Menurut maklumat itu, ijtimak jelang Ramadan 1434 H terjadi pada hari Senin Pon, 8 Juli 2013 M pukul 14:15:55 WIB. Tinggi bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( + : : -07" 48, dan ),: 110o 21, BT ) *0o 44' 59" (hilal sudah wujud). Pada saat Matahari terbenam tanggal 8 Juli 2013 M (hari Senin), di sebagian wilayah barat. Kemudian, Indonesia hilal sudah wujud dan di sebagian wilayah timur Indonesia belum wujud.
Dengan demikian, garis batas wujudul hilal melewati wilayah Indonesia dan membagi wilayah Indonesia menjadi dua bagian.
"1 Ramadhan 1434 H jatuh pada Selasa Wage, 9 Juli 2013".
Selain itu, ijtimak jelang Syawal 1434 H terjadi pada hari Rabu Pon, 7 Agustus 2013 M pukul  04:52:19 WIB. Tinggi bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( 0 : -07" 48, dan l": l l0o 21, BT ) : *03o 54' ll" (hilal sudah wujud) dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam matahari itu, bulan berada di atas ufuk.
 "1 Syawal 1434 H jatuh pada Kamis Wage, 8 Agustus 2013".
Berdasarkan penetapan ini, kemungkinan akan terjadi perbedaan awal puasa Ramadhan.

Sebelumnya, Badan Hisab Rukyat Provinsi Sumatra Utara telah memutuskan awal Ramadhan 1434 Hijriyah/2013 Masehi jatuh pada Rabu, 10 Juli 2013 dan 1 Syawal 1434 H/2013 M jatuh pada Kamis, 8 Agustus 2013. Meskipun demikian, Badan Hisab Rukyat (BHR) Sumut mengimbau umat Islam untuk menunggu sidang itsbat Menteri Agama RI.
"Penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal tetap saja ada potensi perbedaan. Namun masyarakat diimbau dapat menyikapi perbedaan itu secara arif dan bijaksana. Jangan sampai ada keributan dan konflik," kata H.Arso, Ketua BHR Sumut.
Dalam keterangan pers di laman Kemenag Sumut, Ketua Badan Hisab Rukyat Sumut, H.Arso mengatakan awal Ramadhan 1434 H jatuh pada Rabu, 10 Juli 2013 berdasarkan pada ijtimak awal Ramadhan 1434 H terjadi pada Senin, 8 Juli 2013 pukul 4j 14m 05d WIB.
"Ketika matahari terbenam pada hari terjadinya ijtimak, di seluruh Indonesia tinggi hilal antara : -000 47’ 19” s.d. +000 16’ 51” (belum memenuhi kriteria imkan rukyat +20) berdasarkan pada ikmal Sya’ban 1434 H," katanya.
Dia menambahkan adapun 1 Syawal 1434 H jatuh pada Kamis, 8 Agustus 2013 berdasarkan ijtimak awal Syawal 1434 H terjadi pada Rabu, 7 Agustus 2013 pukul 04j 05m 33d WIB.

"Ketika matahari terbenam pada hari terjadinya ijtimak, di seluruh Indonesia tinggi hilal sudah berada di atas ufuk antara : +010 59’ 45” s.d. +030 23’ 09” (telah mencapai kriteria imkan rukyat +020) berdasarkan pada kriteria imkan rukyat," tuturnya.


BAGAIMANA DENGAN PEMERINTAH ....



BISNIS.COM, JAKARTA-Nahdlatul Ulama (NU) belum menentukan awal puasa atau awal Ramadhan karena menunggu hasil rukyat yang baru dilaksanakan 8 Juli mendatang.

"NU tetap berpegang pada metode rukyat untuk penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

”Said Aqil menolak anggapan pilihan penentuan awal bulan melalui metode rukyat adalah bentuk ketertinggalan dari kemajuan teknologi”

"Lajnah Falakiyah kami juga canggih, mau menentukan tanggal sampai tiga ribu tahun ke depan juga bisa. Ini bukan soal canggih atau tidak canggih, tapi ini mengikuti seperti apa yang dijalankan Rasulullah," ujarnya.

Terkait seringnya muncul mendung dalam pelaksanaan rukyat yang mengakibatkan penentuan awal bulan terkendala, dia mengatakan ada petunjuk lain dari Rasulullah untuk menggenapkan bulan menjadi 30 hari.

Pada bagian lain, Said Aqil menyatakan menyesalkan perbedaan waktu pelaksanaan awal puasa dan Hari Raya Idul Fitri yang sering terjadi di Indonesia.

Menurutnya, perbedaan semacam itu memang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga terjadi di Timur Tengah. Hanya saja, di kawasan Timur Tengah perbedaan tidak terjadi dalam satu negara, melainkan di negara-negara yang berbeda.

"Di Timur Tengah penentuan puasa juga sering berbeda, tapi antarnegara, bukan di satu negara ada kelompok-kelompok yang saling berbeda. Al Quran dengan tegas memerintah kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan taat kepada pemimpin".

Sementara itu Sekretaris Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama Nahari Ilyas mengatakan, pihaknya mulai melaksanaan rukyat pada tanggal 28 Sya`ban 1434 H atau bertepatan dengan 8 Juli 2013.

LFNU telah menentukan pelaksanaan rukyat di 90 titik dan telah mempersiapkan tim untuk melaksanakan pengamatan bulan secara langsung tersebut.

"Semua hasil yang dilihat di 90 titik itu akan dilaporkan ke Lajnah Falakiyah pusat, ke kami. Selanjutnya di sini akan dibahas bagaimana keputusan akhirnya," tuturnya. (antara/yus)